Sunday, 16 September 2018

STRATEGI DAN ANGGARAN INDUK


Hasil gambar untuk uang png
A.      Peran Anggaran
Anggaran adalah rencana terperinci untuk pemerolehan dan pemakaian sumber daya keuangan dan lain-lain selama periode waktu tertentu khususnya satu tahun fiscal. Penganggaran merupakan proses untuk memproyeksikan operasi dan proyek secara terus menerus serta kemudian merefleksikan implikasi keuangan. Penyiapan anggaran menyita waktu dari pihak manajemen untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh setiap organisasi pada periode yang akan datang. Sumber daya yang sangat penting ini harus dapat diperoleh untuk mengurangi setiap sumber hambatan dan mencegah sumber hambatan tersebut dari menjadi hambatan sampai mencapai tujuan yang berkaitan dengan anggaran. Anggaran juga berfungsi sebagai alat komunikasi di mana manajemen puncak mendefinisikan rencana dan tujuannya untuk periode agar manajer lainnya dan karyawan memiliki akses terhadap informasi tersebut. Anggaran juga dapat menjadi alat motivasi. Untuk meningkatkan peran anggaran sebagai alat motivasi, banyak organisasi yang melibatkan karyawannya dalam proses penganggaran, dengan demikian membantu karyawan merasakan bahwa anggaran adalah milik mereka. Anggaran juga menyediakan otoritas untuk memperoleh dan menggunakan sumber daya. Fungsi otorisasi anggaran terutama penting bagi organisasi pemerintahan dan nirlaba karena jumlah yang dianggrakan, kadang kala disebut juga alokasi, sering kali berfungsi sebagai persetujuan dari aktivitas dan batas pengeluaran tertinggi. Pada akhir periode operasi, anggaran pada periode tersebut dapat berfungsi sebagai dasar untuk menilai kinerja dengan cara melaporkan kinerja antara pengeluaran aktual dan yang dianggarkan hasil operasi.

B.      Strategi, Rencan Jangka Panjang, dan Anggaran Induk
Pentingnya Strategi dalam Penganggaran
Strategi perusahaan adalah jalur yang dipilihnya untuk mencapai tujuan jangka panjang dan misi. Mengabaikan rencana strategis dapat mengakibatkan pendanaan proyek yang tidak memadai dan inisiatif yang sangat penting untuk mencapai hasil selain operasi harian dari mengambil dan memenuhi pesanan penjualan.

Perumusan Strategi
Perumusan strategi dimulai dengan cara menganalisis faktor-faktor eksternal dan menilai kapabilitas internal. Menelaah faktor-faktor eksternal di sekitar organisasi, seperti faktor-faktor ekonomi, politik, masyarakat, lingkungan dan kompetisi, membantu organisasi untuk mengidentifikasi peluang keterbatasan, dan ancaman. Setelah menganalisis faktor-faktor eksternal di sekitar organisasi dan menilai situasi internal yang dimilikinya, pihak manajemen kemudian dapat mengimbangi peluang dengan kekuatan dan keunggulan kompetitif organisasi serta menentukan tujuan strategis dan sasaran jangka panjang organisasi.

Tujuan Strategis dan Sasaran Jangka Panjang
Rencana jangka panjang tujuannya adalah mengidentifikasi tindakan yang diperlukan pada periode 5 sampai 10 tahun untuk mencapai tujuan strategis perusahaan. Penganggaran modal adalah proses untuk mengevaluasi, memilih, dan membiayai proyek jangka panjang. Tujuan strategis dan sasaran organisasi adalah pada akhirnya dicapai melalui kumpulan inisiatif dan proyek yang terfokus. Pengeluaran anggaran startegis adalah pengeluran yang direncanakan pada proyek dan inisiatif yang mengarah pada nilai jangka panjang dan keunggulan kompetitif.

Sasaran Jangka Pendek dan Anggaran Induk
Sasaran jangka pendek merupakan tujuan dari periode yang akan datang, yang dapat berupa jangka waktu satu bulan, triwulan, tahun, atau jangka waktu yang lama yang diinginkan oleh organisasi untuk keperluan perencanaan. Anggaran induk adalah merencanakan operasi dan keuangan organisasi pada periode yang akan datang; anggaran induk menerjemahkan sasaran jangka pendek ke dalam tahapan tindakan. Setelah mengetahui bahwa sasaran dari suatu organisasi bersifat multidimensi, semakin banyak organisasi yang menggunakan peta strategi dan pasangannya, yaitu kartu skor berimbang, untuk menerjemahkan strategi mereka kedalam tujuan. Anggaran induk menerjemahkan sasaran jangka pendek organisasi ke dalam tahapan tindakan. Anggaran induk juga merupakan ikhtisar keuangan komprehensif dari anggaran organisasi. Begitu pun juga, anggaran induk terdiri dari anggaran operasi maupun anggaran keuangan. Anggaran operasi adalah rencana untuk seluruh fase operasi serta mencakup anggaran produksi, pembelian, personalia, dan pemasaran. Anggaran keuangan merupakan mengidentifikasi sumber dan pemakaian dana untuk operasi yang dianggarakan dan pengeluaran modal.

C.      Proses Penganggaran
Proses penganggaran tradisional dapat berkisar dari proses sederhana yang bersifat informal pada perusahaan kecil yang hanya mengambil waktu berhari-hari atau berminggu-minggu untuk menyelesaikan secara terperinci, sampai dengan prosedur panjang yang digunakan oleh perusahaan besar atau pemerintah yang membutuhkan waktu berbulan-bulan dari awal hingga akhir. Proses tersebut biasanya mencakup pembentukan komite anggaran, penyusunan proposal anggaran awal, negosiasi, peninjauan ulang, dan persetujuan anggaran, serta revisi anggaran.

D.      Anggaran Induk
Anggaran induk merupakan anggaran komprehensif untuk suatu periode spesifik, yang terdiri dari anggaran modal dan serangkaian anggaran operasi dan keuangan yang saling berkaitan.

Anggaran Penjualan
Ditujukan untuk menunjukkan penjualan yang diharapkan dalam satuan unit pada harga jual yang diharapkan. Faktor-faktor yang seharusnya dipertimbangkan dalam peramalan penjualan;
1.       Tingkat penjualan pada saat ini dan tren penjualan pada beberapa tahun yang lalu
2.       Kondisi ekonomi dan industry secara umum
3.       Tindakan kompetitor dan rencana operasi
4.       Kebijakan penentuan harga
5.       Kebijakan kredit
6.       Aktivitas periklanan dan promosi
7.       Pesanan yang tidak dapat dipenuhi

Anggaran Produksi
Anggaran produksi menunjukkan rencana produksi untuk satu periode tertentu. Anggaran pemakaian bahan baku langsung adalah menunjukkan jumlah dan biaya bahan baku langsung yang dianggarkan yang dibutuhkan untuk produksi. Anggaran pembelian bahan baku langsung adalah menunjukkan jumlah fisik dan biaya pembelian bahan baku yang direncanakan. Anggaran tenaga kerja langsung membantu perusahaan dalam menghindari perekrutan secara mendadak, mencegah kekurangan tenaga kerja, dan mengurangi atau menghapus kebutuhan untuk memberhentikan karyawan.

Anggaran pembelian barang dagangan pada suatu perusahaan menunjukan jumlah barang dagangan yang perlu dibeli selama periode yang bersangkutan. Anggaran kas menggambarkan seluruh aktivitas yang dianggarkan terhadap kas.

Sumber

Cokins, B. S. (2011). Manajemen Biaya Penekanan Strategis. Jakarta Selatan: Salemba Empat.




Friday, 14 September 2018

KARAKTERISTIK KUALITAS LAPORAN KEUANGAN



1.       Dapat dipahami
2.       Relevan
3.       Handal
4.       Dapat dibandingkan

Sumber

Wasilah, S. N. (2015). Akuntansi Syariah Di Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.



TUJUAN LAPORAN KEUANGAN SYARIAH



1.       Meningkatkan kepatuhan terhadap prinsip syariah dalam semua transaksi dan kegiatan usaha.
2.       Informasi kepatuhan entitas syariah terhadap prinsip syariah, serta informasi asset, liabilitas, pendapatan, dan beban yang tidak sesuai dengan prinsip syariah bila ada dan bagaimana perolehan penggunaannya.
3.       Informasi untuk membantu mengevaluasipemenuhan tanggungjawab entitas syariah terhadap amanah dalam mengamankan dana, menginvestasikannya pada tingkat keuntungan yang layak.
4.       Informasi mengenai tingkat keuntungan investasi yang diperoleh penanam modal dan pemilik dana syariah temporer dan informasi mengenai pemenuhan kewajiban (obligation) fungsi sosial entitas syariah termasuk pengelolaan dan penyaluran zakat, infaq, sedekah dan wakaf.

Sumber

Wasilah, S. N. (2015). Akuntansi Syariah Di Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.



KARAKTERISTIK TRANSAKSI SYARIAH



1.       Transaksi hanya dilakukan berdasarkan prinsip saling paham dan saling rida
2.       Prinsip kebebasan bertransaksi diakui sepanjang objeknya halal dan baik
3.       Uang hanya berfungsi sebagai alat tukar dan satuan pengukur nilai, bukan sebagai komoditas
4.       Tidak mengandung unsur riba
5.       Tidak mengandung unsur kezaliman
6.       Tidak mengandung unsur maysir
7.       Tidak mengandung unsur gharar
8.       Tidak mengandung unsur haram
9.       Tidak menganut prinsip nilai waktu uang, karena keuntungan yang didapatkan dalam kegiatan usaha terkait dengan resiko yang melekat pada kegiatan usaha tersebut sesuai dengan prinsip al-ghunmu bil ghurmi
10.   Transaksi dilakukan berdasarkan suatu perjanjian yang jelas dan benar serta untuk keuntungan semua pihak tanpa merugikan pihak lain menggunakan dua transaksi bersamaan yang berkaitan dalam satu akad
11.   Tidak ada distorsi harga melalui rekayasa permintaan, maupun melalui rekayasa penawaran
12.   Tidak mengandung unsur kolusi dengan suap-menyuap

Sumber

Wasilah, S. N. (2015). Akuntansi Syariah Di Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.




Wednesday, 12 September 2018

MENGENAL AKUNTANSI SYARIAH


Hasil gambar untuk islamic png
Akuntansi syariah dapat diartikan sebagai proses akuntansi atas transaksi-transaksi yang sesuai dengan atura yang telah ditetapkan Allah SWT.
Perbeddaan antara akuntansi syariah dengan akuntansi konvenional
Kriteria
Akuntansi Syariah
Akuntansi Konvensional
Dasar Hukum
Hukum etika yang bersumber pada Al Quran dan Sunnah
Hokum bisnis modern
Dassar Tindakan
Keberadaan hokum Allah-Keagamaan
Rasionalisme ekonomis-sekuler
Tujuan
Keuntungan yang wajar
Maksimalisasi keuntungan
Orientasi
Kemasyarakatan
Individual atau kepada pemilik
Tahapan Operasional
Dibatasi dan tunduk ketentuaan syariah
Tidak dibatasi kecuali pertimbangan ekonomis

Sumber

Wailah, S. N. (2015). Akuntansi Syariah Di Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.



Tuesday, 11 September 2018

MENGENAL WARALABA


Hasil gambar untuk waralaba png
A.      Berbagai Definisi
Franchise berasal dari bahasa Perancis, yang berarti bebas atau bebas dari prhambaan atau perbudakan (free from servitude). Bila dihubungkan dengan konteks usaha, franchise berarti kebebasan yang diperoleh seseorang untuk menjalankan sediri suatu usaha tertentu di wilayah tertentu. Sedangkan perwaralabaan (franchising) adalah suatu aktivitas dengan system waralaba (franchise), yaitu suatu system keterkaitan usaha yang saling menguntungkan antara pemberi waralaba (franchisor) dan penerima waralaba (franchisee).
Gareth R. Jones dan Jenni fer M. George mengatakan bahwa franchising adalah menjual kepada pihak mancanegara suatu merek sekaligus cara pengoperasiannya untuk mendapatkan sejumlah pembayaran plus bagian keuntungan.. menurut Dr. Martin Mendelsonh, pakar waralaba asal Amerika Serikat, format bisnis Franchoiser adalah modal izin dari satu orang (franchisor) kepada orang lain (franchisee), yang memberi hak (dan biasanya mempersyaratkan) franchisee untuk megadakan bisnis di bawah nama dagang franchisor, meliputi seluruh elemen yang dibutuhkan untuk membuat orag yang sebelumnya belum terlatih dalam berbisnis untuk mampu menjalankan bisnis yang dikembangkannya/dibangun oleh franchisor dibawah brand miliknya, dan setelah di-training untuk menjalankannya berasarkan pada basisi yang ditentukan sebelumnya dengan pendampingan yang berkelanjutan.
Sementara itu, Pradmod Khera mendefinisikan waralaba sebagai metode distribusi di mana pemberi hak waralaba, yang telah menyempurnaka konsep bisnisnya, menerapkan transfer pengetahuan, dangan mekanisme tindak lanjut, kepada penerima hak waralaba yang ingin mendirikan bisnis kewirausahaan. Di Indonesia, konsep Franchise diterjemahkan dengan istilah Waralaba. Namun menurut, Amir Karamoy  menyatakan bahwa waralaba bukan terjemahan langsung konsep Francchise. Dalam perteemuan ilmiah yang dilaksanakan ddi Jakarta oleh IPPM pada tanggal 25 Juni 1991 mengenai konsep waralaba (Franchising) yang merupakan system pemasaran vertical, dikemukakan beberapa definisi Franchise, sebagai berikut:
1.       Franchise adalah system pemasaran atau distribusi barang dan jasa di mana sebuah perusahaan induk (franchisor) yang memberikan kepadda individu atau perusahaan lain  (franchise) yang berskala kecil dan menengah, hak istimewa untuk melakukan suatu sistem tertentu denga cara tertentu, waktu tertentu, dan di suatu tempat tertentu.
2.       Franchise adalah sebuah metoe pendistribusian barang dan jasa kepada masyarakat konsumen, yang dijual kepada pihak lain yang berminat. Pemilikk dari metodde yang menggunakan metode ini disebut franchisee.
3.       Franchising adalah suatu hubungan berdasarkan kontrak antara franchisor dan franchisee. Franchisor menawarkan dan berkewajiban menyediakan perhatian terus-menerus padda bisnis dari franchisee melalui penyediaan pengetahuan dan pelayanan. Franchisee beroperasi dengan menggunakan nama dagang, format, atau prosedur yang ddipunyai, serta dikeendalikan oleh franchisor.
Menurut V. Winarto waralaba adalah hubungan kemitraan antara wirausahawan yang usahanya kuat dan sukses dengan usahawan yang relative baru atau lemah dalam usaha tersebut dengan tujuan saling menguntungkan khususnya dalam bidang usaha penyediaan produk dan jasa langsung kepada konsumen. Sementara itu, Imam Sjahputra Tunggal memaknai waralaba sebagai salah satu bentuk kesepakatan yaitu pemilik dari suatu produk atau jasa mengizinkan orang lain untuk membeli hak distribusi produk atau jasa mengizinkan orang lain untuk membeli hak distribusi produk atau jasa tersebut dan mengoperasikannya dengan bantuan pemilik.
Menurut peraturan pemerintah RI No. 16 Tahun 1997 tentang waralaba yang dikeluarkan tanggal 18 juni 1997: “Waralaba adalah perikatan di mana salah satu pihak diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan ha katas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan dan atau penjualan barang dan atau jasa”( Pasal 1 ayat 1 )

B.      Elemen-Elemen Pokok
1.       Franchisor yaitu pihak pemilik/produsen dari barang atau jasa yang telah memilki merek tertentu serta memberikan hak eksklusif tertentu untuk pemasaran dari barang atau jasa itu.
2.       Franchisee  yaitu piha yang menerima hak eksklusif itu dari franchisor.
3.       Adanya penyerahan hak-hak secara eksklusif (dalam praktik meliputi berbagai macam hak milik intelektual/hak milik perindustrian) dari franchisor kepada franchisee.
4.       Adanya penetapan wilayah tertentu, franchise area di mana franchisee diberikan hak untuk beroperasi I wilayah tertentu. Contohnya: hanya diperbolehkan untuk beroperasidi Pulau Jawa.
5.       Adanya imbal-prestasi dari franchisee kepada franchisor yang berupa Initial Fee dan Royalties serta biaya-biaya lain yang disepakati oleh kedua belah pihak.
6.       Adanya standar mutu yang ditetapkan oleh franchisor bagi franchisee, serta supervise secara berkala dalam rangka mempertahankan mutu.
7.       Adanya pelatihan awal, pelatihan yang bersifat berkesinambunga, yang diselenggarakan oleh franchisor guna peningkatan keterampilan.
Menurut Robert T. Justis dan William Slater Vincent, terdapat tiga elemen penting dari mekanisme franchise yang telah berjalan, yaitu:
a.       Franchisee yang menggunakan nama franchisor dan mereknya;
b.      Franchisor menyediakan bagi franchisee berupa bantuan yang diperlukan franchisee untuk menjalankan bisnisnya;
c.       Franchisee membayar kepada franchisor $500 atau lebih dalam kurun waktu satu semester.
Fenomena yang mungkin terjadi apabila;
a.       Franchisor belum berpengalaman, sehingga kompetensinya belum layak jual.
b.      System belum teruji dalam kurun waktu yang lama.
c.       Franchisor hanya menghendaki franchisee sebagai perpanjang tangan dari pemasaran produknya.
d.      Prospek pasar dari usaha yang dikembangkan itu belum teruji secara menyeluruh.

C.      Perbedaan Waralaba dengan Lisensi
Menurut Iman Sjahputra Tunggal menjelaskan bahwa terdapat perbedaan mendasar antara kedua perjanjian tersebut:
a.       Dalam pewaralabaan terdapat pengawasan pelaksanaan usaha, metode, dan produksi, serta pemasukan kebutuhan untuk menunjang usaha pnerima waralaba.
b.      Pada lisensi yang terjadi hanyalah sekedar pemberian izin penggunaan merek, tekologi,dan know-know, tanpa adanya pengawasan yang terus-menerus atas pelaksanaan usaha itu.
c.       Dalam bisnis waralaba, kepemilikan badan usaha sepenuhnya ada pada penerima waralaba. Secara hokum pemberi waralaba dan penerima waralaba adalah dua badan usaha yang terpisah.
d.      Dalam bisnis waralaba, selama kerja sama tersebut, pemberi wara-laba memberikan pengendalian hasil dan kegiatan dalam kedudukannya sebagai pimpinan sistem kerja lama.
e.      Dalam bisnis waralaba, selain kerja sama tersebut, pihak pemberi wara-laba mengizinkan penerima waralaba menggunakan merek dagang dan identitas usaha milik pemberi waralaba dalam bidang usaha tersebut akan menumbuhkan asosiasi pada masyarakat adanya kesamaan produk dan jasa dengan pemberi waralaba.
Menurut Iman Sjahputra Tunggal kesamaan antara waralaba dengan lisensi adalah:
a.       Yang dipasarkan adalah produk-produk dengan merek dangan milik lisensi atau waralaba.
b.      Melalui perjanjian lisensi atau waralaba,terjadi alihteknologi atau know-know dari licensor atau pemberi waralaba kepada licensee atau penerima waralaba.
c.       Hak atas merek dan hak paten atas know-know, tetap dimilki oleh licensor atau pemberi waralaba.

D.      Tipe-Tipe Waralaba
Leon C. Megginson dan kawan-kawan membagi dua tipe system kewaralabaan sebagai berikut:
a.       Waralaba produk dan merek dagang
b.      Waralaba format bisnis
Iman Sjahputra Tunggal (2005) mengkategorikan waralaba menjadi tiga ipe sebagai berikut:
a.       Product franchising ( trade-name franchising )
b.      Manufacturing franchising ( product – distribution franchising )
c.       Business – format franchising ( pure/comprehensive franchising )
Jackie Amdar dan kawan-kawan menambahkan satu tipe lagi yaitu franchising pribadi.
E.       Yang Dapat Kita Beli Di Waralaba
1.       Produk barang atau jasa dengan pasar yang sudah jelas dan memilki brand baik
2.       Formula atau desain yang telah dipatenkan
3.       Merek dagang
4.       System manajemen keuangan untuk mengendalikan arus kas
5.       Konsultasi manajerial dari pakar di bidangnya
6.       Paket periklanan (advertising) dan atau pembelian (purchasing) yang memenuhi skala ekonomi (economic of sscale)
7.       Layanan yang baik dari antor pusat
8.       Konsep bisnis yang telah teruji

Sumber

Hakim, L. (2008). Info Lengkap Waralaba. Yogyakarta: MedPress.




Monday, 10 September 2018

PERENCANAAN LABA: ANALISIS BIAYA-VOLUME-LABA


Hasil gambar untuk keuntungan png
A.      Analisis Biaya-Volume –Laba
Analisis biaya-volume-laba aalah suatu metode untuk menganalisis bagaimana berbagai keputusan operasi dan pemasaran akan mempengaruhi laba. Analisis CVP memiliki banyak aplikasi:
1.       Menetapkan harga jual produk dan jasa
2.       Memperkenalkan produk atau jasa yang baru
3.       Menggantkan sebuah peralatan
4.       Menentukan titik impas
5.       Memutuskan apakah produk atau jasa tertentu seharusnya dibuat atau dibeli
6.       Menentukan bauran produk terbaik
7.       Melakukan analisis strategi dengan menggunakan “bagaimana jika”
Margin Kontribusi dan Laporan Laba Rugi Kontribusi
Margin kontribusi perunit adalah sselisih antara harrga jual per unit dengan biaya variabel per unit serta merupakan ukuran kenaikan laba akibat kenaikan satu unit penjualan. Total margin kontribusi merupakan margin kontribusi per unit dikalikan jumlah unit yang terjual. Rasio margin kontribusi adalah rasio margin kontribusi per unit terhadap harga jual per unit (p – v).
B.      Peran Strategis Analisis CVP
Analisis CVP dapat membantu perusahaan untuk melaksanakan strateginya dengan cara memberikan informasi mengenai bagaimana perubahan volume penjualan memengaruhi biaya dan laba. Selain itu analisis CVP penting untuk digunakan dalam perhitungan biaya siklus hidup maupun perhitungan biaya berdasarkan target. Selain itu, analisis CVP dapat digunakan pada tahp-tahap lebih lanjut dari siklus hidup produk, yaitu selama perencanaan produksi, untuk menentukan proses produksi yang paling hemat biaya. Analisis CVP juga berperan dalam penentuan posisi strategis. Perusahaan yang telah memilih untuk berkompetisi dengan strategi kepemimpinan biaya membutuhkan analisis CVP, terutama pada tahap produksi dari siklus biaya.

C.      Analisis CVP untuk Perencanaan Titik Impas
Titiik impas, yaitu titiik di mana pendapatan sama dengan total biaya labanya nol.

Metode Persamaan: Untuk Titik Impas dalam Satuan Unit
Metodde persamaan menggunakan modep CVP secara langsung dengan menggunakan rumus sebagai berikut;

Penjualan = Biaya Tetap + Total Biaya Variabel + Laba Operasi
P x Q = F + (v x Q) + N

Metode Persamaan: Untuk Titik Impas dalam Satuan Dolar
Kadang kala, jumlah unit yang terjual, biaya variabel per unit, dan harga jual tidak diketahui, atau tidak praktis untuk ditentukan. Rumusnya sebagai berikut;

Pejnualan = Biaya Tetap + Total Biaya Variabel + Laba
P x Q = F + (v x Q) + N

Metode Margin Kontribusi

Q = Biaya Tetap/Margin Kontribusi Per Unit
=
Metode margin kontribusi  juga dapat digunakan untuk mengetahui titik impas dalam satuan dolar, dengan menggunakan rasio margin kontribusi ( dengan memecahkan Y = [ (v/p) x Y ] ).

Y =     dimana  (p-v)/p = rasio margin kontribusi

Grafik laba-volume mengilustrasikan bagaimana tingkat laba berubah pada berbagai tingkat output.

D.      Analisis CVP untuk Perencanaan Laba
Analisis CVP dapat digunakan untuk menentukan tingkat penjualan yang dibutuhkan agar mencapai tingkat laba yang diharapkan.

Perencanaan Pendapatan
Analisis CVP memebantu manajer dalam perencanaan pendapatan guna menentukan pendapatan yang dibutuhkan agar mencapai tingkat laba yang diharapkan.

Perencanaan Biaya
Untuk keputusan perencanaan biaya, manajer  mengasumsikan jumlah penjualan dan laba yang diharapkan telah diketahui, tetapi ingin menemukan nialai biaya variabel atau biaya tetap yang dibutuhkan untuk mencapai laba yang diharapkan pada jumlah penjualan yang diasumsikan. Ketiga contohnya adalah sebagai berikut;
1.       Pertukaran antara biaya tetap dengan biaya variabel-contoh pertama satu mesin
2.       Pertukaran antara biaya tetap dengan biaya variabel-contoh kedua dua mesin
3.       Komisi dan gaji penjualan-contoh ketiga
Memasukkan Pajak Pengahasilan Ke Dalam Analisis CVP
Keputusan manajer mengenai biaya harga biasanya harus memasukkan pajak pengahasilan karena pajak memengaruhi jumlah laba untuk tingkat penjualan tertentu.
Q =
E.       Analisis CVP untuk Perhitungan Biaya Berdasarkan Aktivitas
Pendekatan konvensional untuk analisis CVP adalah menggunakan ukuran berdasarkan volume, yaitu ukuran berdasarkan jumlah unit yang diproduksi dan dijual. Disinilah CVP berdasarkan aktivitas berbeda dari pendekatan tradisional yang berdasarkan volume. CVP tradisional yang berbasis volume mengklasifikasikan tiga tingkat lainnya (kelompok produk, produk dan fasilitas) sebagai biaya tidak langsung yang berubah seiring dengan volume dan oleh karena itu disebut biaya tetap. Biaya tingkat produk seperti perubahan desain atau fitur produk adalah biaya yang memiliki periode perencanaan yang lebih singkat karena perubahan tersebut dapat disertakan ke dalam proses produksi pada waktu yang lebih singkat, mungkin beberapa bulan hingga satu tahun sebelum perubahan tersebut memengaruhi total biaya.

F.       Analisis Sensitifitas dari Hasil CVP
Analisis CVP menjadi alat strategis yang penting ketika manajer menggunakannya untuk sensitivitas laba terhadap perubahan yang mungkin dapat terjadi pada biaya atau volume perusahaan. Analisis sensitivitas merupakan nama untuk berbagai metode yang menelaah bagaimana perubahan jumlah unit jika faktor-faktor yang dilibatkan dalam memprediksi jumlah unit tersebut juga berubah.

Lima Tahapan Pengambilan Keputusan Strategis untuk Analisis CVP
1.       Menentukan isu strategis di sekitar masalah
2.       Mengidentifikasi alternative tindakan
3.       Memperoleh informasi dan melakukan analisis terhadap alternative. Pilihan satu: mempertahankan mesin penyalin saat ini. Pilihan dua: mesin penyalin baru
4.       Didasarkan strategi dan analisis, pilih dan implementasikan alternative yang diinginkan
5.       Menyediakan evaluasi terus menerus mengenai elektabilitas implementasi pada tahap 4

G.     Analisis CVP untuk Dua Produk atau Lebih dari Dua Produk
Biasanya perusahaan menghasilkan atau menjual eceran dua atau lebih  dari dua produk. Perusahaan akan sulit mengkalkulasikan dan menginterpretasikan karena banyak titik impas. Selain itu, perusahaan akan sulit menentukan bagaimana biaya tetap perusahaan seharusnya dialokasikan antarproduk. Untuk alasan ini, pendekatan umum bagi perusahaan dengan banyak produk adalah menggunakan rasio margin kontribusi. Berdasarkan pendekatan tersebut memungkinkan perusahaan untuk mengestimasikan titik impas pada dolar penjualan bersadarkan estimasi metode margin kontribusi rata-rata tertimbang terhadap seluruh produknya.

Sumber

Cokins, B. S. (2011). Manajemen Biaya Penekanan Strategis. Jakarta Selatan: Salemba Empat.